| photo : Ahmad Muhaimin |
Ketika matahari
tepat di atas ubun-ubun, dipintu gerbang terminal itu terlihat seorang laki-laki
separuh baya sibuk memandangi sebatang rokok yang kian memendek di tangannya.
Dengan tas yang sedikit lusuh diatas pangkuan dan wajah yang sedikit lesu
sangat terlihat ia lelah menunggu angkutan kota yang biasa mengantarkannya
ketempat dimana ia akan beradu hari itu. Setelah cukup lama ia duduk diantara
sebuah penantian, angkutan yang ia tunggupun tiba. Mungkin tak sia-sia ia
menunggu cukup lama, meskipun ia harus duduk berdesak-desakan dengan 15 orang di
dalam angkutan kota yang seharusnya hanya berisi 10 orang. menariknya lagi ia juga harus berbagi tempat
dengan berbagai barang dagangan, dan beberapa ekor ayam.
Setelah 2 jam perjalanan tibalah laki
laki itu disuatu tempat, seketika pandangannya tertuju pada jalan setapak dan
berbatu. Entah apa yang sedang ia pikir dan mukjizat apa yang baru saja ia
dapat, wajahnya yang 2 jam lalu terlihat lelah berubah menjadi cerah dan penuh
semangat. Dengan langkah pasti ia mulai menyusuri jalan setapak itu, kemana
dia?
Tak terlihat langkah yang gontai sedikitpun, ia terus
berjalan semakin cepat melewati jalan setapak yang jauh dan seakan tak berbatas
itu. Namun, Di tengah perjalanan ia mulai memperlambat langkahnya, saat seorang
anak berbadan kurus dengan tas kecil yang disandang dipundak berlari
menghampirinya,
“Kang Guru,” tegur
anak yang bernama Sugeng itu seraya bersalaman dengan laki-laki separuh
baya itu
“oh, kamu to geng” kata lelaki itu dengan senyum yang
mulai melebar dibibirnya.
Dan seperti diburu waktu kedua orang itu kembali
meneruskan perjalanannya.
“lho geng bukannya hari ini kamu ada waktu belajar
siang?” tanya lelaki itu seraya terus berjalan
“iya kang?” jawabnya sedikit lesu
“kenapa kamu ndak belajar bersama teman-temanmu yang
lain?”
“pak agung dan bu dyah belum datang kang, jadi teman-teman
asyik main sendiri”
Sugeng memang anak desa, ia dan teman-temannya tumbuh
dari lingkungan yang tak pernah mengenal pendidikan sebelumnya. Saat ini pun di
desa tempat Sugeng tinggal mungkin jauh lebih baik dari pada 2 / 3 tahun yang
lalu, dimana tidak satupun ada sekolahan yang dibangun bahkan sampai saat
inipun jika anak-anak di desa itu ingin belajar mereka harus bersedia lebih
dekat dengan alam, mengingat tempat dimana Sugeng dan teman-temannya biasa
belajar adalah di sebuah lahan kosong yang beratapkan langit.
Perjuangan hebat dalam menanamkan minat belajar di desa Sugeng
adalah suatu usaha yang luar biasa, hal ini dikarenakan pola pikir masyarakat
desa itu hanya terpacu pada hal ekonomi dan menelantarkan pendidikan.
Namun Tuhan itu adil, mengingat ada 3
orang pahlawan tangguh yang secara suka rela membantu masyarakat desa itu untuk
mengubah mindsetnya agar lebih mengutamakan pendidikan
Kang Guru itulah panggilan yang sering Sugeng dan
teman-temannya sebut untuk memanggil laki-laki separuh baya itu. Kang Guru
adalah salah satu diantara 3 pahlawan yang berjuang demi pendidikan anak-anak di
desa itu. Meskipun ia hanya lulusan SMK bukan SMA dan sama sekali tidak pernah
terlahir sebagai seorang sarjana, tapi Kang Guru adalah orang yang terbuka mata
dan hatinya untuk mengabdi didesa yang miskin ilmu itu.
Setelah cukup lama berjalan diatas
jalan berbatu, akhirnya Kang Guru dan Sugengpun tiba di sebuah tempat yang
biasanya digunakan Sugeng dan teman-temannya belajar. Dari jauh terlihat
anak-anak kecil berlarian, bermain petak umpet bahkan ada beberapa yang duduk
diam layaknya anak yang kelaparan, disana juga tak terlihat bu dyah dan pak
agung yang biasanya mengajar, dan hari itu adalah hari yang kesekian kalinya
untuk Kang Guru mengajar sendiri anak-anak desa itu.
Melihat gurunya telah datang, anak-anak itupun juga tak
lekas menghentikan permainannya malah ada diantara mereka yang mencari
permainan baru seakan-akan tak ada waktu lagi untuk belajar. Tapi, bagi Kang
Guru ini bukanlah cobaan yang membuatnya harus melucuti gelar kepahlawannya.
Setelah melihat respon yang seperti itu dari anak didiknya, Kang Guru segera
mendekati mereka yang sedang asyik bermain, dengan sikap yang penuh semangat Kang
Guru berteriak
“ayo adik-adik, Kang punya permainan baru siapa yang mau
main?”
Langkah awal ini mungkin bisa dikatakan gagal karena
masih banyak yang terus asyik bermain sendiri. Tapi hal yang sudah biasa Kang
Guru alami ini tidak membuatnya putus asa. Segera ia mengeluarkan beberapa
gulung kertas warna warni, beberapa gulung benang dan beberapa potongan bambu dari
dalam tas lusuh yang dari tadi ia sandang dipundaknya.
“hari ini, siapa yang ingin terbang?” teriak Kang Guru
dengan penuh semangat
Seketika anak-anak kecil yang acuh itu langsung menghentikan
permainannya. Mungkin mereka bingung, mana ada manusia tak bersayap bisa
terbang dan satu persatu diantara mereka mulai mendekat ke arah Kang Guru.
“Kang Guru bagaimana bisa?” tanya salah satu anak
diantara mereka
“kalian ingin tahu bagaimana cara kita bisa terbang?”
kata Kang Guru
“iya kang .... iya kang?” seru anak-anak itu
“baiklah hari ini kita tidak akan belajar berhitung
ataupun membaca, hari ini kita akan belajar bagaimana caranya kita bisa
terbang, oke anak-anak!”
Segera Kang Guru menyuruh anak-anak itu duduk melingkar
dan membagikan gulungan kertas warna-warni, benang, dan potongan bambu kepada
beberapa anak.
“langkah pertama, kita akan berlomba membuat
layang-layang dengan bahan yang sudah dibagikan dan siapa yang lebih cepat akan
mendapatkan hadiah”suruh Kang Guru
Tanpa berpikir panjang anak-anak itu segera membuat
layang-layang yang mereka anggap sebagai makanan sehari-hari mengingat salah
satu permainan yang masih digandrungi didesa adalah layang-layang.
Tidak sampai 1 jam, hampir semua anak-anak itu
menyelesaikan layang-layangnya dengan sempurna kecuali Sugeng. Sebagai anak
dari seorang wanita janda setiap hari Sugeng harus membantu ibunya yang
berprofesi sebagai seorang pedagang itu, jarang sekali ia bisa bermain dengan
anak-anak yang lain dan hal inilah yang membuat Sugeng tak begitu pandai
membuat layang-layang.
Melihat hampir semua anak didiknya telah selesai membuat
layang-layang, Kang Gurupun menurunkan perintah yang kedua,
“selanjutnya, coba kalian tulis apa yang kalian
cita-citakan dan apa yang kalian ingin lakukan diatas kertas layang-layang
itu”.
“Kang Guru, cita-cita itu apa?” tanya salah satu anak
diantara mereka
“cita-cita itu apa yang kamu inginkan nanti” jawab
singkat Kang Guru
Setelah mendengar jawaban dari Kang Guru anak-anak
itupun lekas melanjutkan tugasnya, diantara mereka ada yang menulis jika mereka
ingin menjadi polisi, bidan, pedagang, guru dan profesi yang lain.
Seraya melihat anak didiknya sibuk menuliskan
cita-citanya, tiba-tiba Kang Guru sedikit tersentak dengan layang-layang yang Sugeng
pegang. Di kertas layang-layang itu bertuliskan ‘aku ingin terbang’ , sebenarnya Kang Guru ingin menanyakan hal yang
membuatnya penasaran itu. Tapi bersamaan dengan itu ia juga melihat anak-anak
didiknya yang lain sudah tak sabar ingin menerbangkan layang-layang yang mereka
buat itu.
“ sudah selesai semua layang-layangnya?” tanya Kang Guru
“sudah kang” jawab mereka serentak
“sekarang ayo kita terbang, terbangkan layang-layang itu
terbangkan cita-cita kalian sampai Tuhan tahu apa yang kalian inginkan”, seru Kang
Guru dengan nada yang penuh semangat.
Tanpa berpikir panjang merekapun segera menerbangkan
layang-layangnya. Dan di sore itu di lapangan yang jauh dari peradaban ilmu
terlihat warna-warni cita-cita yang mereka terbangkan bersama dengan
layang-layang itu.
Namun
jika menoleh ke sudut lapangan, terlihat
seorang anak yang masih sibuk mengotak-atik layangannya yang belum juga terbang
seperti layang-layang teman-temannya yang lain. Ternyata itu adalah Sugeng, ia
mengalami kesulitan untuk menerbangkan layang-layangnya. melihat kesulitan Sugeng,
Kang Guru segera menghampirinya,
“lho geng kenapa layang-layangmu?” tanya Kang Guru
“tidak bisa terbang kang, mungkin karena saya tidak bisa
membuatnya” jawab Sugeng dengan nada sedikit kecewa
“sini kang betulkan”, minta Kang Guru
Seraya memperbaiki layang-layang itu, Kang Guru
menanyakan suatu hal yang membuatnya penasaran,
“geng, cita-citamu nanti apa?” Kang Guru penasaran
“belum tahu kang, saya ingin seperti Kang Guru saja
lah?” jawab Sugeng
“tapi kenapa disini cita-citamu ingin terbang geng?”
tanya Kang Guru seraya menunjukkan tulisan yang dituliskan Sugeng diatas
layang-layangnya
“kata Kang Guru tadi cita-cita itu apa yang diinginkan,
jadi yang saya inginkan layang-layang yang saya buat nanti bisa terbang
meskipun saya tidak bisa membuat layang-layang seperti teman-teman” jawab Sugeng
dengan nada datar
“jadi meksudnya ‘aku
ingin terbang’ itu berarti yang ingin terbang layang-layangmu to?” tegas Kang
Guru
“iya,kang”
Sambil berbincang-bincang akhirnya layangan Sugengpun selesai
dibetulkan, dan merekapun segera menerbangkannya.
Melihat layang-layangnya terbang tinggi, Sugengpn merasa
senang.
Dan disore itu Kang Guru telah mengajarkan anak-anak
yang kurang ilmu itu sebuah arti dari cita-cita meskipun hanya setinggi layang-layang
yang mereka terbangkan.
with suport :)
A. Kusumaning Asri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar