| photo : Erva Kurniawan |
Kuterbangun
saat sinar matahari menembus celah kecil jendela kamarku, saat kubuka jendela
semuanya terlihat indah pagi itu. Ku melihat hamparan lapangan hijau tempat
dimana aku bersama teman-temanku menghabiskan waktu bersama entah untuk
berolahraga ataupun bermain. Tidak hanya itu, setiap malam lapangan hijau yang
terletak ditengah-tengah pemukiman penduduk itu tak pernah sepi, karena
tempatnya yang strategis, lapangan itu dijadikan tempat berjualan oleh penduduk
sekitar. Mulai dari berjualan makanan, pakaian bahkan mainan. Kehidupan
keluargakupun juga bergantung pada lapangan itu, karena setiap hari ibuku
berjualan nasi disana. Tak lama aku menikmati pagi itu, tiba-tiba terdengar
ketukan dipintu kamarku. Ternyata itu ibu,
“Ulin,
ayo bangun cepat mandi nanti kamu telat lho!” Seru ibu dari balik pintu.
“iya
buk”, jawabku seraya menuju kamar mandi. Setelah siap, aku menuju ruang makan
untuk sarapan dulu sebelum berangkat bersama adik laki-lakiku.
“lin,
kamu gak lupa kan kalau mulai hari ini disuruh bantuin nita mengatarkan
dagangan ibunya ke kantin sekolah?”
“oh
iya bu, aku hampir saja lupa”, jawabku dengan sedikit mengingat perkataan ibu.
Belum sempat aku menghabiskan sarapan itu, aku langsung pamit dan segera menuju
kerumah Nita,
hal ini kulakukan agar uang tabunganku cepat terkumpul banyak. Setelah tiba
dirumah nita, aku melihat nita dan ibunya yang sedang menyiapkan barang
dagangan yang akan ku antarkan dan akupun segera menghampiri mereka.
“pagi
bik, pagi nita”? sapaku
“oh,
Ulin. Mulai sekarang kamu bantuin bibi ya mengantarkan dagangan ke kantin
sekolahmu?”
“ok
bik”, jawabku dengan penuh semangat seraya mengambil dagangan itu untuk
kuantarkan bersama nita. Dan kamipun segera pamit untuk berangkat menuju
sekolah. Nita adalah temanku sejak TK, dan kini kita tetap bersama duduk
dikelas 5 SD. Ditengah jalan menuju sekolah yang berjarak 4 km dari rumah, aku
merasakan sedikit kelelahan, mungkin kali ini karena aku membawa barang
dagangan yang cukup berat.
“kamu
capek ya lin, kita istirahat dulu ya? Tanganku juga pegel nih”. Ajak nita
sambil meletakkan dagangannya dipinggir jalan.
“sedikit
sih, tapi kalau kita tidak segera jalan, nanti kita telat lagi”. Jawabku sambil
terus berjalan pelan dan nitapun mulai berjalan mengikutiku.
“eh
lin, bagaimana kalau sepulang sekolah nanti kita bermain di lapangan sebelah
rumahmu?”
“boleh
juga, tapi ajak teman-teman yang lain juga ya?”
“oke
dah, beres” sanggup nita.
Tak
terasa kami telah sampai disekolah, dengan segera kami menuju kekantin untuk
menitipkan barang dagangan. Setelah itu kami langsung menuju kekelas untuk
belajar. Sepulang sekolah seperti yang kita rencanakan pagi tadi, sesampai
dirumah dan makan siang aku berpamitan kepada ibu untuk bermain sebentar, dan
ibupun mengijinkan.
Aku
bersama teman-teman yang lain segera menuju kelapangan untuk mulai bermain,
aku, nita dan salah satu temanku memutuskan untuk bermain lompat tali saja. Dan
diantara teman-temanku yang lain ada yang bermain petak umpet, gundu, dan sepak
bola. Seringkali kami juga memainkan permainan tradisional seperti dam-daman, grobak sodor, gedrik ataupun
jaran-jaranan. Permainan ini begitu asyik untuk kami mainkan, selain dapat
menghibur diri, permainan inipun juga sangat ekonomis alias gratis. Selepas
bermain, tubuhku terasa lelah sembari duduk diatas rumput hijau kumenghela
nafas untuk kembali membangkitkan energy yang tersisa. Tiba-tiba kumendengar
suara ibu memanggilku,
“lin,
ayo pulang. Bantu ibu menyiapkan barang dagangan untuk nanti malam”
“iya
bu”, jawabku sambil berlari-lari kecil menuju rumah. Segera aku membantu ibu
menyiapkan barang dagangan dan membawanya menuju warung.
Setelah
magrib ibuku mulai berjualan, aku hanya mempunyai waktu sebentar untuk
membantunya karena aku harus mengaji dan belajar bersama adikku. Tapi ibu tak
keberatan harus berjualan sendiri, terkadang ketika aku sedang belajar dikamar
aku melihat lapangan tempat ibu berjualan itu sangat ramai, ditambah lagi kalau
ada pasar malam. Disisi lain aku juga melihat ibu yang sedang sibuk melayani
para pembelinya, memang akhir-akhir ini dagangan ibu laris, dan aku berdo’a
semoga usaha ibu akan seperti ini setiap hari mengingat ibu adalah satu-satunya
tulang punggung keluarga yang harus membiayai hidupku dan adikku. Terkadang aku
berfikir, lebih baik setelah aku lulus nanti aku berhenti sekolah dan membantu
ibu saja, tapi ibu tak pernah mengijinkannya.
Lapangan
itu memang memiliki keistimewaan tersendiri bagi keluargaku dan penduduk
sekitar, namun akhir-akhir ini ada berita yang kurang enak didengar. Banyak
orang yang mengatakan jika dilapangan itu akan segera dibangun sebuah perumahan
baru, dan karena hal itu semua aktivitas penduduk yang biasanya berjualan tiap
malamnya terpaksa harus dihentikan. Berita tersebut semakin meyakinkan ketika
siang itu aku sedang bermain bersama teman-teman, tiba-tiba ada sekelompok
bapak-bapak bertopi menghampiri kami, bahkan menyuruh kami untuk tidak bermain
dilapangan ini lagi.
“dek, tolong ya kalau bermain jangan disini”.
“lho ada apa om, biasanya kami juga bermain disini
tidak apa-apa?” bantah salah satu temanku
“mulai sekarang kalian bermain ditempat yang
lain saja ya? sebabnya lapangan ini akan digusur, untuk pembangunan perumahan.”
suruh bapak-bapak itu.
Dengan
kecewa kami semua bubar. Aku segera menuju rumah dan memberitahu tentang apa
yang aku alami bersama teman-teman,
“bu,
bu, apa benar kalau lapangan itu akan dibangun perumahan?”
“
ibu dengar sih begitu”.
“
terus bagaimana dengan jualan kita, bu. Terus aku dan teman-teman harus bermain
dimana?”
“ibu
juga bingung lin, bagaimana dengan jualan kita nanti. Padahal itukan
satu-satunya usaha yang bisa ibu jalani saat ini” keluh ibuku dengan wajah
sedikit bingung. Mendengar ibu berbicara seperti itu aku jadi berfikir,
bagaimana kelangsungan hidup keluargaku, bagaimana dengan sekolahku dan adikku
kalau usaha ibu harus berhenti sampai disini.
Akibat
peristiwa ini, penduduk sekitar, mengadakan protes besar-besaran untuk
mempertahankan lapangan itu, bahkan mereka nekat membuat pagar dari kawat dan
bamboo untuk menghalangi pengusuran lapangan tersebut. Namun usaha penduduk
memagari lapangan seluas 1 Ha itu sia-sia karena para pihak penggusur
bersihkeras menguasai lapangan. Disamping itu tidak hanya lapangan, sawah-sawah
yang berdekatan dengan lapangan itupun ikut dijadikan lahan pembangunan
perumahan.
Hilangnya lapangan itu, membuat usaha
ibuku dan penduduk yang lain ikut hilang, tapi ibuk tak pernah menyerah ia
mencoba berjualan didepan rumah setiap sore. Meskipun dagangannya tak selaris
seperti dulu, ibu tetap menyuruhku untuk terus bersyukur, meskipun untungnya
sedikit, tapi masih cukup untuk makan sehari-hari. Semenjak kejadian itu pula
aku dan teman-temanku tak bisa bermain bersama lagi, Sampai sampai banyak
diantara mereka yang bermain sepak bola dijalan raya.
Suatu
sore ketika aku mulai membantu ibu berjualan didepan rumah, terlihat banyak
tetangga yang berlarian menuju jalan raya depan gang rumahku, sambil
berteriak-teriak
“tubrukan,
ada tubrukan didepan!” teriak mereka.
Seketika
itu, ibu langsung meletakkan piring yang baru dielapnya. Tiba-tiba ada beberapa
anak kecil menghampiriku dengan tergopoh-gopoh, ternyata mereka adalah teman
dari adikku,
“mbak
ulin, anu mbak….Arik anu……arik kesrempet truk digang depan”.
“kok
bisa?”, jawabku terkejut
“tadi
kami sedang bermain sepak bola digang depan mbak, tiba-tiba waktu arik
istirahat dipinggir jalan ada truk yang nyrempet dia, kayaknya sih, sopirnya
ngantuk mbak”.
Mendengar
hal itu ibuku langsung lemas, dengan sedikit tenaga yang ia miliki, ia mencoba
berlari menuju gang depan untuk melihat keadaan adikku. Untunglah adikku tak
mengalami luka parah, hanya luka-luka pada tangan dan retak kaki ringan. Dalam
hal ini adikku memang salah tapi tak sepenuhnya kesalahannya karna ketika aku
Tanya dengan takut ia menjawab bahwa dia dan teman-temannya hanya ingin bermain
sepak bola, berhubung tidak ada tempat lapang untuk bermain, maka mereka
memilih bermain dijalan raya meskipun itu berbahaya.
Kini
tak ada lagi pagi yang indah, tak ada lagi sinar mentari yang mengintip dari
celah jendela kamarku. Ketika kubangun dan kubuka jendela kulihat lapangan
hijau yang luas berubah menjadi rumah-rumah berpetak dengan tiang portal yang
membatasi antara rumahku dengan rumah penduduk baru disana. Sejak itu pula tak
pernah kulihat tawa teman-temanku yang bermain disana, tak pernah kulihat lagi
teman-temanku berlari-larian sambil bernyanyi-nyanyi riang, bahkan dibalik
jendela kamarku, ku tak pernah lagi melihat ibuku yang berjualan dilapangan
itu. Yang lebih menyedihkan anak-anak kecil penghuni rumah baru disana tidak
pernah mengenal permainan tradisional yang biasanya ku lakukan bersama
teman-teman. Yang mereka tahu adalah permainan elektronik yang canggih yang
terkadang membuatku ingin memilikinya.
with support :)
A. Kusumaning Asri |thanks to your real story, Dek Risky|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar