Sabtu, 14 Maret 2015

HILANG HARAPAN
 | photo : Erva Kurniawan |


Kuterbangun saat sinar matahari menembus celah kecil jendela kamarku, saat kubuka jendela semuanya terlihat indah pagi itu. Ku melihat hamparan lapangan hijau tempat dimana aku bersama teman-temanku menghabiskan waktu bersama entah untuk berolahraga ataupun bermain. Tidak hanya itu, setiap malam lapangan hijau yang terletak ditengah-tengah pemukiman penduduk itu tak pernah sepi, karena tempatnya yang strategis, lapangan itu dijadikan tempat berjualan oleh penduduk sekitar. Mulai dari berjualan makanan, pakaian bahkan mainan. Kehidupan keluargakupun juga bergantung pada lapangan itu, karena setiap hari ibuku berjualan nasi disana. Tak lama aku menikmati pagi itu, tiba-tiba terdengar ketukan dipintu kamarku. Ternyata itu ibu,

“Ulin, ayo bangun cepat mandi nanti kamu telat lho!” Seru ibu dari balik pintu.
“iya buk”, jawabku seraya menuju kamar mandi. Setelah siap, aku menuju ruang makan untuk sarapan dulu sebelum berangkat bersama adik laki-lakiku.
“lin, kamu gak lupa kan kalau mulai hari ini disuruh bantuin nita mengatarkan dagangan ibunya ke kantin sekolah?”
“oh iya bu, aku hampir saja lupa”, jawabku dengan sedikit mengingat perkataan ibu. Belum sempat aku menghabiskan sarapan itu, aku langsung pamit dan segera menuju kerumah Nita, hal ini kulakukan agar uang tabunganku cepat terkumpul banyak. Setelah tiba dirumah nita, aku melihat nita dan ibunya yang sedang menyiapkan barang dagangan yang akan ku antarkan dan akupun segera menghampiri mereka.
“pagi bik, pagi nita”? sapaku
“oh, Ulin. Mulai sekarang kamu bantuin bibi ya mengantarkan dagangan ke kantin sekolahmu?”
“ok bik”, jawabku dengan penuh semangat seraya mengambil dagangan itu untuk kuantarkan bersama nita. Dan kamipun segera pamit untuk berangkat menuju sekolah. Nita adalah temanku sejak TK, dan kini kita tetap bersama duduk dikelas 5 SD. Ditengah jalan menuju sekolah yang berjarak 4 km dari rumah, aku merasakan sedikit kelelahan, mungkin kali ini karena aku membawa barang dagangan yang cukup berat.
“kamu capek ya lin, kita istirahat dulu ya? Tanganku juga pegel nih”. Ajak nita sambil meletakkan dagangannya dipinggir jalan.
“sedikit sih, tapi kalau kita tidak segera jalan, nanti kita telat lagi”. Jawabku sambil terus berjalan pelan dan nitapun mulai berjalan mengikutiku.
“eh lin, bagaimana kalau sepulang sekolah nanti kita bermain di lapangan sebelah rumahmu?”
“boleh juga, tapi ajak teman-teman yang lain juga ya?”
“oke dah, beres” sanggup nita.

Tak terasa kami telah sampai disekolah, dengan segera kami menuju kekantin untuk menitipkan barang dagangan. Setelah itu kami langsung menuju kekelas untuk belajar. Sepulang sekolah seperti yang kita rencanakan pagi tadi, sesampai dirumah dan makan siang aku berpamitan kepada ibu untuk bermain sebentar, dan ibupun mengijinkan.

Aku bersama teman-teman yang lain segera menuju kelapangan untuk mulai bermain, aku, nita dan salah satu temanku memutuskan untuk bermain lompat tali saja. Dan diantara teman-temanku yang lain ada yang bermain petak umpet, gundu, dan sepak bola. Seringkali kami juga memainkan permainan tradisional seperti dam-daman, grobak sodor, gedrik ataupun jaran-jaranan. Permainan ini begitu asyik untuk kami mainkan, selain dapat menghibur diri, permainan inipun juga sangat ekonomis alias gratis. Selepas bermain, tubuhku terasa lelah sembari duduk diatas rumput hijau kumenghela nafas untuk kembali membangkitkan energy yang tersisa. Tiba-tiba kumendengar suara ibu memanggilku,
“lin, ayo pulang. Bantu ibu menyiapkan barang dagangan untuk nanti malam”
“iya bu”, jawabku sambil berlari-lari kecil menuju rumah. Segera aku membantu ibu menyiapkan barang dagangan dan membawanya menuju warung.

Setelah magrib ibuku mulai berjualan, aku hanya mempunyai waktu sebentar untuk membantunya karena aku harus mengaji dan belajar bersama adikku. Tapi ibu tak keberatan harus berjualan sendiri, terkadang ketika aku sedang belajar dikamar aku melihat lapangan tempat ibu berjualan itu sangat ramai, ditambah lagi kalau ada pasar malam. Disisi lain aku juga melihat ibu yang sedang sibuk melayani para pembelinya, memang akhir-akhir ini dagangan ibu laris, dan aku berdo’a semoga usaha ibu akan seperti ini setiap hari mengingat ibu adalah satu-satunya tulang punggung keluarga yang harus membiayai hidupku dan adikku. Terkadang aku berfikir, lebih baik setelah aku lulus nanti aku berhenti sekolah dan membantu ibu saja, tapi ibu tak pernah mengijinkannya.

Lapangan itu memang memiliki keistimewaan tersendiri bagi keluargaku dan penduduk sekitar, namun akhir-akhir ini ada berita yang kurang enak didengar. Banyak orang yang mengatakan jika dilapangan itu akan segera dibangun sebuah perumahan baru, dan karena hal itu semua aktivitas penduduk yang biasanya berjualan tiap malamnya terpaksa harus dihentikan. Berita tersebut semakin meyakinkan ketika siang itu aku sedang bermain bersama teman-teman, tiba-tiba ada sekelompok bapak-bapak bertopi menghampiri kami, bahkan menyuruh kami untuk tidak bermain dilapangan ini lagi.

“dek, tolong ya kalau bermain jangan disini”.
“lho  ada apa om, biasanya kami juga bermain disini tidak apa-apa?” bantah salah satu temanku
 “mulai sekarang kalian bermain ditempat yang lain saja ya? sebabnya lapangan ini akan digusur, untuk pembangunan perumahan.” suruh bapak-bapak itu.
Dengan kecewa kami semua bubar. Aku segera menuju rumah dan memberitahu tentang apa yang aku alami bersama teman-teman,
“bu, bu, apa benar kalau lapangan itu akan dibangun perumahan?”
“ ibu dengar sih begitu”.
“ terus bagaimana dengan jualan kita, bu. Terus aku dan teman-teman harus bermain dimana?”
“ibu juga bingung lin, bagaimana dengan jualan kita nanti. Padahal itukan satu-satunya usaha yang bisa ibu jalani saat ini” keluh ibuku dengan wajah sedikit bingung. Mendengar ibu berbicara seperti itu aku jadi berfikir, bagaimana kelangsungan hidup keluargaku, bagaimana dengan sekolahku dan adikku kalau usaha ibu harus berhenti sampai disini.
Akibat peristiwa ini, penduduk sekitar, mengadakan protes besar-besaran untuk mempertahankan lapangan itu, bahkan mereka nekat membuat pagar dari kawat dan bamboo untuk menghalangi pengusuran lapangan tersebut. Namun usaha penduduk memagari lapangan seluas 1 Ha itu sia-sia karena para pihak penggusur bersihkeras menguasai lapangan. Disamping itu tidak hanya lapangan, sawah-sawah yang berdekatan dengan lapangan itupun ikut dijadikan lahan pembangunan perumahan.

          Hilangnya lapangan itu, membuat usaha ibuku dan penduduk yang lain ikut hilang, tapi ibuk tak pernah menyerah ia mencoba berjualan didepan rumah setiap sore. Meskipun dagangannya tak selaris seperti dulu, ibu tetap menyuruhku untuk terus bersyukur, meskipun untungnya sedikit, tapi masih cukup untuk makan sehari-hari. Semenjak kejadian itu pula aku dan teman-temanku tak bisa bermain bersama lagi, Sampai sampai banyak diantara mereka yang bermain sepak bola dijalan raya.
Suatu sore ketika aku mulai membantu ibu berjualan didepan rumah, terlihat banyak tetangga yang berlarian menuju jalan raya depan gang rumahku, sambil berteriak-teriak

“tubrukan, ada tubrukan didepan!” teriak mereka.
Seketika itu, ibu langsung meletakkan piring yang baru dielapnya. Tiba-tiba ada beberapa anak kecil menghampiriku dengan tergopoh-gopoh, ternyata mereka adalah teman dari adikku,
“mbak ulin, anu mbak….Arik anu……arik kesrempet truk digang depan”.
“kok bisa?”, jawabku terkejut
“tadi kami sedang bermain sepak bola digang depan mbak, tiba-tiba waktu arik istirahat dipinggir jalan ada truk yang nyrempet dia, kayaknya sih, sopirnya ngantuk mbak”.

Mendengar hal itu ibuku langsung lemas, dengan sedikit tenaga yang ia miliki, ia mencoba berlari menuju gang depan untuk melihat keadaan adikku. Untunglah adikku tak mengalami luka parah, hanya luka-luka pada tangan dan retak kaki ringan. Dalam hal ini adikku memang salah tapi tak sepenuhnya kesalahannya karna ketika aku Tanya dengan takut ia menjawab bahwa dia dan teman-temannya hanya ingin bermain sepak bola, berhubung tidak ada tempat lapang untuk bermain, maka mereka memilih bermain dijalan raya meskipun itu berbahaya.

Kini tak ada lagi pagi yang indah, tak ada lagi sinar mentari yang mengintip dari celah jendela kamarku. Ketika kubangun dan kubuka jendela kulihat lapangan hijau yang luas berubah menjadi rumah-rumah berpetak dengan tiang portal yang membatasi antara rumahku dengan rumah penduduk baru disana. Sejak itu pula tak pernah kulihat tawa teman-temanku yang bermain disana, tak pernah kulihat lagi teman-temanku berlari-larian sambil bernyanyi-nyanyi riang, bahkan dibalik jendela kamarku, ku tak pernah lagi melihat ibuku yang berjualan dilapangan itu. Yang lebih menyedihkan anak-anak kecil penghuni rumah baru disana tidak pernah mengenal permainan tradisional yang biasanya ku lakukan bersama teman-teman. Yang mereka tahu adalah permainan elektronik yang canggih yang terkadang membuatku ingin memilikinya. 


with support :)
 A. Kusumaning Asri |thanks to your real story, Dek Risky|

Tidak ada komentar:

Posting Komentar